Senin, 15 Oktober 2012

Voley Pantai (4)




Sebuah pertarungan di alam pikiran Andes sedang berlangsung. Dia mengambil batu kerikil, mungkin untuk yang keseratus kali (soalnya gak ada yang ngitung), Andes melemparkannya ke sungai. Plung. Airnya berpencar melingkar. Kodok sudah berlarian dari tadi. Ada satu yang tetap di situ menatapnya. Mungkin kodok berpikir: rajin amat orang melempar batu satu satu. Capung tetap saja terbang di atas air.

Sekejap percik air bisa mengurangi kepenatan otak Andes. Jadi bupati memang keren, tapi apa harus jadi pejabat, biar ngetop? Tapi mengapa pula ingin jadi koki? Apa nggak ada cita-cita lain, misalnya pilot yang rada tinggian. Atau jadi raksasa yang gedean. Atau menjadi bambu yang panjang. Ah resek benar nih otak. Ngelamunnya sudah parah, cita-cita kok jadi bambu.

Koki? Kayaknya di pikiran Andes, juru masak  tetap oke? Banyak nama keren karena jadi juru masak hebat. Sebut saja, Heinz Beck, ahli santapan khusus mediterranean di La Pergola Roma. Dari Jerman ada Klaus Erfort yang bekerja di restoran dekat perbatasan Prancis yang jago menghidangkan masakan Jerman dan Prancis.

Seorang lagi dari Singapura, juru masak Regis Marcon ahli memadukan  beberapa elemen dengan produk natural pada masakannya. Juru masak dari Italia, Claudio Sadler menyatukan yang baru dengan yang lama di dalam masakannya dengan nama Italian nouva cucina.

Tapi kok banyak orang meremehkan pelayan restoran? ”Kan aku bukan pelayan, aku koki, “ kata Andes dalam hati. Tunggu. Pekerjaan sejenis koki, sori ini contoh kok, katakanlah pelayan restoran, sering diperintah orang dengan nada Bossy (emang dia yang bayar kok). Sebentar-sebentar… ya.

Enak saja dia bilang; ambil serbet, ambilkan sendok—jatuh tuh. Kadang nggak pakai kata maaf, langsung nyuruh. Lagian  mudah amat sih tersinggung? Nah, pokoknya apa enak jadi koki, itu pertanyaan utama. Kok muter-muter sih?

Andes melempar batu (sori tak ngitung ya, jadi sebut saja yang ke seratus sembilan puluh sembilan). Plang plung. Capung itu masih di atas kolam berputar-putar. “Mau dimasakin?” kata Andes.

Seorang petani membawa sayuran, dari kebun. Dia melewati jeep keren yang diparkir di tepi jalan. Petani celingukan mencari-cari siapa pengemudinya. Kemudian dia melihat seorang pemuda tengah duduk melamun. Nyengir saja dia, lalu kabur.

Andes melamun lagi. Enakan membayangkan Linda yang mempunyai bibir ala Angelina Jolie. Lagi ngapain dia ya?

                                                ***

Telepon berdering. “Hai ini Andes kan?” suara perempuan melengking dari balik telepon seluler. Andes mendadak beku. “E.. Lin!”

“Ini kamu kan gara-garanya? Kamu memang anak Bupati. Tak boleh memperlakukan wanita seenaknya tahu!,”  Linda makin memekik. Andes gelagapan.

Kok dik Jolie marah tiba-tiba. Andes menenangkan diri. Plung. Kali ini bukan batu yang dilempar. Andes sendiri menyemplung ke sungai yang lumayan jernih. Byuuur. Kepala panas menjadi sedikit sejuk. Baju  basah kuyup, air  merembes ke dalam kulit. Mak nyus. Dingin.

Dia berenang sedikit ke tengah di air yang dalam, jernih dan tenang. Dengan sedikit manuver, Andes balik cepat ke tepian. Dicarinya telepon genggamnya dan segera telepon balik. Halloo?

“Apa?” galak benar Linda membalas, bahkan Andes belum bicara.

Ada apa?” Andes bertanya kebingungan. Dia melihat pohon beringin besar di tepi sungai. “Apakah saya kesambet?”  batin Andes.

“Kamu kerasukan setan ya?” Linda masih berteriak.

Gawat, kok Linda tahu Andes sedang memikirkan kemungkinan  ada setan yang masuk saluran telepon nirkabel? Bibir Andes terdiam seperti kesambet beneran.

“Heh kok diam saja. Enak saja ngerjain! Mentang-mentang anak Bupati?”

Andes garuk-garuk kepala.

“Lind…”

Telepon mati lagi.

                        **
Jeep berjalan seperti kucing mabuk di jalanan. Belok kanan dan belok kiri tak jelas tanda-tandanya. Mobil, motor, truk, bis, bergantian mengklason. Ting-ting. “Sinting kowe…” supir angkutan umum mengumpat. Tapi supirnya mendadak pucat.

“Anak Bupati ternyata. Aduh mudah-mudahan masih dikasih slamet aku. Kalau sampai ketangkap. Modar aku, “ kata supir dalam hati.

Persis, selesai dia berdoa, tepat di depan ada polisi patroli memberi aba-aba berhenti. Si supir ketakutan sambil meminggirkan kendaraan. “Beginilah kalau orang kecil mengumpat anak Bupati, “ katanya dalam hati.

Ketika mekrolet behenti di tepi jalan, polisi mendekat di samping pintu. “Siapa suruh minggir. Jangan berhenti sembarangan, “ kata polisi marah. Supir terbengong.”Kamu kok ngliat saya. Cepatan! “ katanya membentak.

Wow ya Allah doa supir  terkabul. Dari pintu spion, supir melihat jeep anak Bupati masih serong  kanan serong kiri. Polisi tadi rupanya sedang mencoba menghentikan ulah jeep mabuk itu. Tetap dari spion, supir memperhatikan polisi berhasil yang menghentikan jeep dan memaksanya minggir, dan Brukkk!

Wadoow. Bukan jeep itu yang menabarak pohon. Melainkan mikrolet yang menubruk tukang ojek. Kali ini dari spion, tampak polisi mendatangi mikrolet dengan naik motor. Ngalamat duit duit!!

                        ****

Sebuah saluran televisi lokal menyiarkan berita dengan headline “Putus Cinta, Andes Belgedes. “  Karena sudah jaman kebebasan informasi yang super, penyiar bisa membuat kalimat yang tidak sesuai ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Ejaan yang tidak sempurna saja tak menulis kata belgedes.

Linda yang lagi ngantuk, jadi bangun sontak. “Dalam keadaan setengah ngantuk, Andes menyebut nama Linda .. Linda …,” demikian penyiar yang melakukan siaran dengan riang gembira. Asyik benar memberitakan kisah anak Bupati yang menurut sumber kepolisian dalam keadaan ngantuk.

 “Mungkin saja ngantuk, “ kata seorang saksi tukang ojek.
 “Saya saja ditabrak, “ katanya melanjutkan.
“Jadi anak Bupati menabrak Anda?”
“Bukan saya ditabrak mikrolet, “ kata tukang ojek.

Ah, wartawannya kontan lari mencari sumber lain sambil bersungut. “Orang sedang mencari berita tentang anak Bupati kok ngomong ketabrak mirkolet. Tidak level bangget, “ kata wartawan.

Ani memperhatikan gambar di tv. Andes tampak dikawal polisi. Tiba-tiba penyiar berkata:”Apakah ada penonton yang bernama Linda  dan punya hubungan dengan Andes, anak Bupati? Tolong telpon ke sini. ”

“Itu pasti kamu, “ kata Ani kepada Linda yang sedang setengah melamun.

Linda dan Ani bertatapan.

“Kok kamu melototi aku?”

“Aku bingung…”

“Udah telepon saja. Kalau gak mau saya saja yang telepon ke televisi.”

“Jangan!!!!”

Linda lari ke kamar mandi. Tak lama, dia keluar lagi. Seperti bingung, dia masuk lagi ke kamar mandi.

“Minum obat mencret kalau mules, “ kata Ani reseh.

Linda mendadak memegang perut. Tadi sih belum mules. Mendengar Ani ngomong, perut Linda kontan berontak. Dia masuk lagi ke WC.

Suasana WC malah membuatnya tenang. Tuing. Inspirasi muncul.

Linda mengambil HP di saku dan menelpon. (bersambung)

Volley Pantai (3)




Andes terdiam, tangannya memotong daging kambing.

“Tak semua daging bisa disate, “ katanya.

“Sate? Jadi kita akan bikin sate lagi? Ini sudah yang keempat. Kau bilang kita akan bikin steak,” Ani protes.

Andes baru sadar, ternyata ini kali keempat Kelompok Bang Des, membuat sate.

“Oh ya. Mungkin ini yang terakhir. Lagi pula, kita tak boleh berlatih terburu-buru. Memasak sampai hapal, baru kita pindah menu, Okey?”

Hu.. hu.. hu.. hu..

Sudah satu tahun ini Kelompok Bang Des berkumpul. Ada tiga laki-laki dan tiga perempuan yang hobi memasak. Semua setuju Andes adalah yang termahir. Karena itu pantaslah kalau dia yang memimpin. Lagi pula Andes, duitnya tak ada nomornya. Para anggota tak perlu khawatir kekurangan bahan baku, bumbu, persediaan gas, dan segala macam kebutuhan untuk mengolah menu masakan.

Buat Ani, acara masak bersama adalah kesempatan emas untuk mendekati Andes. “Ini pria yang gentle. Biasanya pria yang suka masak agak kemayu. Tapi Andes tidak, “ Ani berbincang dalam hati.

“Tidak seperti pria lain, “ kata Ani cukup keras hingga terdengar semua peserta.

“Pria?” kata peserta lain bersamaan? Andes yang sedang melamun sadar belakangan.

“Pria? Apaan?”

Ani tersipu, sementara yang lain ketawa cekakakan.

Praktek masak kali ini agak kaku jadinya. Semua peserta menatap Andes yang diam, tidak seperti biasanya.

“Eh saya ada SMS mendadak nih. Saya mau pergi… dulu. “

Satu per satu pergi meninggalkan Andes tinggal berdua di dapur dengan Ani. Keduanya sibuk membuat sate tanpa bicara. Andes menyayat daging kambing, sementara Ani menusukannya ke bilah bambu.

Ani melirik Andes. Pria dengan pundak gagah itu diam saja. Sedikit kulit tangan Ani menyentuh lengan Andes. Lumayan.  Andes tersenyum, meski tetap membisu. Keduanya berbicara di pikiran masing-masing.

“Pria ini aneh. Tapi badannya sterek. Suka renang sih, ”

“Cewek ini rada nekad. Yang lain pulang kok dia gak pamitan”

“Waktu di pantai sebenarnya dia juga suka melirik aku, “

“Kalau Linda tahu berdua begini, bisa berantakan rencanaku, “

“Kalau seandainya Linda tahu begini, dia tak perlu berharap Andes lagi, deh,”

Keheningan itu akhirnya pecah.

“Ini untuk Linda, “ kata Andes, ketika melihat gelagat Ani hendak menuju pintu, seolah berpamitan.

“Linda?” kata Ani berpura-pura tenang, tapi hatinya duongkol pisan.

  Andes tersenyum agak kaget.

“Untukmu,” Andes meralatnya.

Ani mendadak ingin pulang. Limapuluh tusuk sate ada di tangannya.

***
Linda tengah menonton bola.

“Oper kiri. Kiri….Alah.’’

“Handsball. Handsball. Ah… pinalti. Kartu merah kek. Dasar wasit tua plontos.”

Di ruangan itu Linda sendirian. Tapi seperti ada sekumpulan satu RT sedang nonton bola. Ribut  melulu.

Ani masuk, menaruh sate di meja lalu masuk kamar mandi.

Linda menatap Ani sekilas.

“Terima kasih. Sate lagi. Goal!”

Suara gedubrak terdengar dari kamar mandi.

“Ani?” teriak Linda, takut  jangan-jangan Ani jatuh.

“Berisik. Berisik!”

Linda membuka bungkusan sate, dengan mata tetap menatap layar televisi.

Dengan lahap makan tusuk sate satu per satu sambil ngomong terus,  mengomentari  bola ditendang-tendang di televisi . Tiba-tiba dia menggigit sekumpulan cabe rawit.

“Ya ampun.. siapa yang bikin sate cabe? Beli dimana?”

Linda lari buru-buru ke kulkas, mengambil sebotol air dan menumpahkannya ke mulutnya. Mulutnya tak cukup menampung air hingga muntah membasahi kaos tipisnya. Tanpa bra, begitulah kalau dia di rumah.

Kembali ke meja, Linda mengambil bilah sate. Setelah dicermati, ternyata benar-benar sate cabe. Sepuluh cabe rawit ditusuk tanpa dibakar. Dan sepuluh cabe itu  merah menyala semua.

Linda diam di depan televisi menunggu Ani selesai mandi. Bibirnya susah digerakan  akibat terbakar cabe merah. “Akan ada balasan!” (bersambung)

Rabu, 10 Oktober 2012

Volley Pantai (2)



“Hei, anak Bupati nglihat kamu terus loh,’’ Ani berkata seolah tak ingin bicara. Kalimatnya datar dan tak sungguh-sungguh pengucapannya. Suara pelan itu, memang bermaksud menyindir. Linda merasakannya,  dia menoleh ke  arah Ani yang tengah menatap lampu taman.

“Jadi, kamu melototin Andes terus. Pantes sering salah servis.., “ Linda berkata dengan sedikit mencibir.

Dua gadis itu mendadak diam. Matanya masing-masing menatap sesuatu yang tidak jelas fokusnya.

“Kupikir dia naksir kamu, “ kata Ani, akhirnya.

“Kamu kali yang jatuh cinta.”

“Dia tak menatapku, kok.”

“Iya. Kamu yang ngliatin dia terus, “

Ani mengambil bantal dan memukul kepala Linda yang tak sempat  menghindar. Buk! Ani pergi ke kamar. Linda meneruskan tatapannya pada air mancur taman.

Linda tergoda membuat analisa. Mangapa pula anak Bupati nonton voley pantai kelas kampung? “Ini bukan Olimpiade. Alah.. iseng kali. “

Jantung Linda tiba-tiba melambat. Sudah berapa SMS kiriman dari rekan main tentang Andes.

“Bener dia gak kedip.”

“Sumpe lu, gak tanggap?”

Bla… bla… bla…

Sepertinya dunia mendadak menatapnya. “Anak Bupati jatuh cinta padaku… haaa…haaa haaa, “

Ani keluar kamar mendengar tawa Linda yang mirip orang kerasukan setan.

“Linda! Jangan lihat pohon beringin!”

Linda mendadak diam, mengoreksi mimik wajahnya. Bibirnya dimanyun-manyunkan lagi. Sedikit matanya melirik rimbunan daun beringin yang tak tersorot lampu. Tampak raksasa kribo bergoyang-goyang.

***
“Ini peluang terbaik. Semua orang mendukungmu. Pak De, Bu Lik, sepupu  kamu, semuanya merasa cocok, “ suara Bupati Bawono, begitu menggelegar di ruang makan.

“Kedatangan saya ke sini juga untuk mendukung kamu, “ kata Pak De, tangannya memilin daun kemangi sebelum dikunyah.

“Pak De seharusnya tak terlalu banyak makan sambel. Lambungnya kan pernah bocor,  “ batin Andes menatap Pak De.

“Tapi tolong jangan dibocorin dulu. Kita sedang cari pasangan yang cocok, “ Bawono kembali bicara.

“Tak perlu cantik kan Pa?” tanya Tantri, adik bungsu Andes yang lagi-lagi mengunyah pete.

“Perempuan kok makannya pete! Mendingan Linda suka sate, ” batin Andes.

“Kemarin kan dia ke pantai. Ngejar Linda, Pa, “  mata Tantri melirik Andes.

“Bocah ini kok gak besar-besar, “ Bawono menatap Tantri yang mendadak pura-pura sibuk mengambilkan tisu buat Andes.

“Linda pemain voley kan? Sudah-sudah,  “ Bawono terpancing, tapi segera balik ke topik yang dia maui.

“Pimpinan Partai Beringin sudah setuju, mau mencalonkan kamu, nDes,  “ kata Bawono berkata lebih tegas.

Andes dan Tantri bertatapan.

“Cita-citanya jadi koki terkenal kok dicalonkan  bupati. Gak salah tuh?” kata Tantri dalam hati.

Tantri melangkah keluar ruangan. “Saya gak ikut-ikut ya Pa. Kayaknya masalahnya berat.” Ketika hampir ke pintu, dia kembali. “Ini tak ada yang makan, kan?” Tantri mengambil pete bakar dan roti.

“Dasar nDeso. Makan peten campur roti tawar, “ Andes berkata dalam hati sambil menatap Tantri.

Ayahnya melanjutkan pembicaraan. Suaraya segera menguasai ruangan. Sangat berwibawa. (bersambung)

Judul: Anak Bupati Tak Ingkar Janji





Bab I: Volley Pantai (1)

Hari panas membuat mata Andes mengernyit. Apa yang ditatapnya berbeda dengan penonton laki-laki lain. Sebuah pertandingan volley pantai oleh olahrgawan putri, apa yang menarik daripadanya? Di luar laju bola, mata mereka ramai-ramai menatap pantat atlet. Itulah salah satu alasan mengapa para pria mau berbondong ke pantai di hari yang panas.

Tapi Andes tak melihat ke bokong-bokong itu. Bibir Linda lebih menarik. Bukan soal merekah atau basah merah. Itu kedengaran  kuno. Dimata Andes, rasanya menjadi menakjubkan ketika bibir itu maju. Seperti ekpresi orang kecewa. “Aku pernah melihat orang utan melakukannya di Ragunan, “ katanya dalam hati tertawa sendiri.

Tapi mata Andes menatap bibir Linda dengan mantap, untuk kesekian kalinya memonyongkan bibir, sebelum ketawa puas. Begitulah kalau Linda habis melakukan smes mematikan. Bentuk bibir Linda mematikan jantung Andes untuk beberapa detik.

Sejujurnya, Linda dulu putih. Begitulah yang dikenal Andes dari foto kecil pemberian teman. Tapi berjam-jam di pantai, bahkan berhari dan bertahun-tahun, mengubah kulitanya jadi gelap. “Kurasa dia tetap suka lulur. Setidak-tidaknya tidak keling seperti pemain lain, “ Andes berkata lirih.

Dilihatnya Linda terjengkang dengan kaki terangkat dan tangannya menengadah minta pertolongan rekannya untuk bangkit. Itulah yang mengagumkan dari Linda, tak pernah putus asa dan bersedia jatuh bangun. Semua pemain sebenarnya juga begitu, tapi bagi Andes sepertinya Linda melakukannya lebih dari yang lain. “Mengapa harus sampai terjengkang sih?”.

Ada perasaan cemburu. “Cemburu? Emang siapa dia?” Ah, semua penonton bertepuk tangan dan memandang Linda yang mencoba bangkit dengan pasir membedaki pantat dan pahanya. Tangannya menepok celana sendiri, kemudian membungkuk membersihkan paha dan lutut dari pasir. Kali ini, bibirnya manyun. “Jangan menyerah Lin”.

Sesungguhnya, Andes juga menjadi perhatian penonton. Dia putra mahkota Bupati Cilacap, Pak Bawono. Badan Andes  tinggi kekar dan macho. Satu pengawal berada di sisinya, yang lebih banyak clingak-clinguk daripada nonton.  Pada akhirnya dia sering menguap dan belakangan tertidur. Itu lebih baik buat Andes, karena sebenarnya Sarno, si pengawal itu,  lebih banyak menganggu pikirannya.

Di bangku rumah, wajah Linda, terutama bibirnya tentu saja, masih membayang di benak Andes. Tangan Andes mengambil segelas jus dingin dari kulkas. Segar sekali rasanya menenggak satu gelas besar jus  dingin sampai habis.

Khayalannya kembali ke pantai yang terik. Ketika dia meninggalkan tempat, para penonton, terutama perempuan melambai-lambai ke arah Andes. “Andes, minta tanda tangan dong. Andes..Andes.” Agak norak memang, tapi Andes sendiri kadang membuat pancingan. Ketawa ketiwi ke arah cewek ABG yang sedang kepanasan. Seperti cacing terpanggang matahari, maaf, cewek-cewek berjingkat-jingkat mendekati Andes. Ya Andes berhalo-halo saja. Satu dua tangan cewek disambutnya. Tapi mata Andes  sendiri sibuk mencari Linda. Ketika sudah mendapatkan Linda lagi menyeruput air mineral dengan lahapnya, Andes bisa mengalihkan lagi pandangannya ke cewek-cewek.  “Kurasa, Linda melihatku, “ katanya dalam hati.

Sambil melepas kaos, Andes memanggil Sarwo.

“Wo, kamu lihat tadi kan?”

“Benar, Bos. Linda melihat Bapak juga”.

“Bukan. Kamu lihat dia makan apa?”

“Sepertinya habis minum, dia diberi box kue”.

“Lahap?”

“Sepertinya…”

“Sepertinya apa?”

“Sepertinya saya tidak melihat dia makan,”

Andes membuang muka. Sarwo merasa bersalah lalu menyingkir.

Linda sebenarnya suka makan, tapi memang agak pemilih. Kecuali soal sate, dia suka sekali. Teman-temannya memanggil Linda Sate. Dia tak boleh lihat penjual sate lewat. Pasti dipanggil. Andes tersenyum membayangkannya. “Kebiasaan makan sate mungkin menimbulkan bibirnya suka maju. “ Andes minta maaf pada diri sendiri atas analisa yang berlebihan. “Memang seksi, lebih seksi dari bibir Angelina Jolie, “  Andes mengoreksi.

Lama-lama Andes mengatuk dan masuk kamar.  Sarwo menilai itu saat yang tepat untuk bermain ping pong di sebelah rumah melawan satpam. Kemarin dia kalah. Saatnya kini untuk membalasanya. (Bersambung)