“Tak semua daging bisa disate, “ katanya.
“Sate? Jadi kita akan bikin sate lagi? Ini sudah yang
keempat. Kau bilang kita akan bikin steak,” Ani protes.
“Oh ya. Mungkin ini yang terakhir. Lagi pula, kita tak boleh
berlatih terburu-buru. Memasak sampai hapal, baru kita pindah menu, Okey?”
Hu.. hu.. hu.. hu..
Sudah satu tahun ini Kelompok Bang Des berkumpul. Ada tiga laki-laki dan
tiga perempuan yang hobi memasak. Semua setuju Andes
adalah yang termahir. Karena itu pantaslah kalau dia yang memimpin. Lagi pula Andes , duitnya tak ada nomornya. Para anggota tak perlu
khawatir kekurangan bahan baku ,
bumbu, persediaan gas, dan segala macam kebutuhan untuk mengolah menu masakan.
Buat Ani, acara masak bersama adalah kesempatan emas untuk
mendekati Andes . “Ini pria yang gentle.
Biasanya pria yang suka masak agak kemayu. Tapi Andes tidak, “ Ani berbincang
dalam hati.
“Tidak seperti pria lain, “ kata Ani cukup keras hingga
terdengar semua peserta.
“Pria?” kata peserta lain bersamaan? Andes
yang sedang melamun sadar belakangan.
“Pria? Apaan?”
Ani tersipu, sementara yang lain ketawa cekakakan.
Praktek masak kali ini agak kaku jadinya. Semua peserta
menatap Andes yang diam, tidak seperti
biasanya.
“Eh saya ada SMS mendadak nih. Saya mau pergi… dulu. “
Satu per satu pergi meninggalkan Andes
tinggal berdua di dapur dengan Ani. Keduanya sibuk membuat sate tanpa bicara. Andes menyayat daging kambing, sementara Ani menusukannya
ke bilah bambu.
Ani melirik Andes . Pria
dengan pundak gagah itu diam saja. Sedikit kulit tangan Ani menyentuh lengan Andes . Lumayan. Andes tersenyum, meski tetap membisu. Keduanya berbicara
di pikiran masing-masing.
“Pria ini aneh. Tapi badannya sterek. Suka renang sih, ”
“Cewek ini rada nekad. Yang lain pulang kok dia gak pamitan”
“Waktu di pantai sebenarnya dia juga suka melirik aku, “
“Kalau Linda tahu berdua begini, bisa berantakan rencanaku,
“
“Kalau seandainya Linda tahu begini, dia tak perlu berharap Andes lagi, deh,”
Keheningan itu akhirnya pecah.
“Ini untuk Linda, “ kata Andes ,
ketika melihat gelagat Ani hendak menuju pintu, seolah berpamitan.
“Linda?” kata Ani berpura-pura tenang, tapi hatinya duongkol
pisan.
“Untukmu,” Andes
meralatnya.
Ani mendadak ingin pulang. Limapuluh tusuk sate ada di
tangannya.
***
Linda tengah menonton bola.
“Oper kiri. Kiri….Alah.’’
“Handsball. Handsball. Ah… pinalti. Kartu merah kek. Dasar
wasit tua plontos.”
Di ruangan itu Linda sendirian. Tapi seperti ada sekumpulan
satu RT sedang nonton bola. Ribut
melulu.
Ani masuk, menaruh sate di meja lalu masuk kamar mandi.
Linda menatap Ani sekilas.
“Terima kasih. Sate lagi. Goal!”
Suara gedubrak terdengar dari kamar mandi.
“Ani?” teriak Linda, takut
jangan-jangan Ani jatuh.
“Berisik. Berisik!”
Linda membuka bungkusan sate, dengan mata tetap menatap
layar televisi.
Dengan lahap makan tusuk sate satu per satu sambil ngomong
terus, mengomentari bola ditendang-tendang di televisi . Tiba-tiba
dia menggigit sekumpulan cabe rawit.
“Ya ampun.. siapa yang bikin sate cabe? Beli dimana?”
Linda lari buru-buru ke kulkas, mengambil sebotol air dan
menumpahkannya ke mulutnya. Mulutnya tak cukup menampung air hingga muntah
membasahi kaos tipisnya. Tanpa bra, begitulah kalau dia di rumah.
Kembali ke meja, Linda mengambil bilah sate. Setelah
dicermati, ternyata benar-benar sate cabe. Sepuluh cabe rawit ditusuk tanpa
dibakar. Dan sepuluh cabe itu merah
menyala semua.
Linda diam di depan televisi menunggu Ani selesai mandi.
Bibirnya susah digerakan akibat terbakar
cabe merah. “Akan ada balasan!” (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar