Senin, 15 Oktober 2012

Volley Pantai (3)




Andes terdiam, tangannya memotong daging kambing.

“Tak semua daging bisa disate, “ katanya.

“Sate? Jadi kita akan bikin sate lagi? Ini sudah yang keempat. Kau bilang kita akan bikin steak,” Ani protes.

Andes baru sadar, ternyata ini kali keempat Kelompok Bang Des, membuat sate.

“Oh ya. Mungkin ini yang terakhir. Lagi pula, kita tak boleh berlatih terburu-buru. Memasak sampai hapal, baru kita pindah menu, Okey?”

Hu.. hu.. hu.. hu..

Sudah satu tahun ini Kelompok Bang Des berkumpul. Ada tiga laki-laki dan tiga perempuan yang hobi memasak. Semua setuju Andes adalah yang termahir. Karena itu pantaslah kalau dia yang memimpin. Lagi pula Andes, duitnya tak ada nomornya. Para anggota tak perlu khawatir kekurangan bahan baku, bumbu, persediaan gas, dan segala macam kebutuhan untuk mengolah menu masakan.

Buat Ani, acara masak bersama adalah kesempatan emas untuk mendekati Andes. “Ini pria yang gentle. Biasanya pria yang suka masak agak kemayu. Tapi Andes tidak, “ Ani berbincang dalam hati.

“Tidak seperti pria lain, “ kata Ani cukup keras hingga terdengar semua peserta.

“Pria?” kata peserta lain bersamaan? Andes yang sedang melamun sadar belakangan.

“Pria? Apaan?”

Ani tersipu, sementara yang lain ketawa cekakakan.

Praktek masak kali ini agak kaku jadinya. Semua peserta menatap Andes yang diam, tidak seperti biasanya.

“Eh saya ada SMS mendadak nih. Saya mau pergi… dulu. “

Satu per satu pergi meninggalkan Andes tinggal berdua di dapur dengan Ani. Keduanya sibuk membuat sate tanpa bicara. Andes menyayat daging kambing, sementara Ani menusukannya ke bilah bambu.

Ani melirik Andes. Pria dengan pundak gagah itu diam saja. Sedikit kulit tangan Ani menyentuh lengan Andes. Lumayan.  Andes tersenyum, meski tetap membisu. Keduanya berbicara di pikiran masing-masing.

“Pria ini aneh. Tapi badannya sterek. Suka renang sih, ”

“Cewek ini rada nekad. Yang lain pulang kok dia gak pamitan”

“Waktu di pantai sebenarnya dia juga suka melirik aku, “

“Kalau Linda tahu berdua begini, bisa berantakan rencanaku, “

“Kalau seandainya Linda tahu begini, dia tak perlu berharap Andes lagi, deh,”

Keheningan itu akhirnya pecah.

“Ini untuk Linda, “ kata Andes, ketika melihat gelagat Ani hendak menuju pintu, seolah berpamitan.

“Linda?” kata Ani berpura-pura tenang, tapi hatinya duongkol pisan.

  Andes tersenyum agak kaget.

“Untukmu,” Andes meralatnya.

Ani mendadak ingin pulang. Limapuluh tusuk sate ada di tangannya.

***
Linda tengah menonton bola.

“Oper kiri. Kiri….Alah.’’

“Handsball. Handsball. Ah… pinalti. Kartu merah kek. Dasar wasit tua plontos.”

Di ruangan itu Linda sendirian. Tapi seperti ada sekumpulan satu RT sedang nonton bola. Ribut  melulu.

Ani masuk, menaruh sate di meja lalu masuk kamar mandi.

Linda menatap Ani sekilas.

“Terima kasih. Sate lagi. Goal!”

Suara gedubrak terdengar dari kamar mandi.

“Ani?” teriak Linda, takut  jangan-jangan Ani jatuh.

“Berisik. Berisik!”

Linda membuka bungkusan sate, dengan mata tetap menatap layar televisi.

Dengan lahap makan tusuk sate satu per satu sambil ngomong terus,  mengomentari  bola ditendang-tendang di televisi . Tiba-tiba dia menggigit sekumpulan cabe rawit.

“Ya ampun.. siapa yang bikin sate cabe? Beli dimana?”

Linda lari buru-buru ke kulkas, mengambil sebotol air dan menumpahkannya ke mulutnya. Mulutnya tak cukup menampung air hingga muntah membasahi kaos tipisnya. Tanpa bra, begitulah kalau dia di rumah.

Kembali ke meja, Linda mengambil bilah sate. Setelah dicermati, ternyata benar-benar sate cabe. Sepuluh cabe rawit ditusuk tanpa dibakar. Dan sepuluh cabe itu  merah menyala semua.

Linda diam di depan televisi menunggu Ani selesai mandi. Bibirnya susah digerakan  akibat terbakar cabe merah. “Akan ada balasan!” (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar