Bab I: Volley Pantai (1)
Hari panas membuat mata Andes
mengernyit. Apa yang ditatapnya berbeda dengan penonton laki-laki lain. Sebuah
pertandingan volley pantai oleh olahrgawan putri, apa yang menarik daripadanya?
Di luar laju bola, mata mereka ramai-ramai menatap pantat atlet. Itulah salah
satu alasan mengapa para pria mau berbondong ke pantai di hari yang panas.
Tapi Andes tak melihat ke bokong-bokong itu. Bibir Linda
lebih menarik. Bukan soal merekah atau basah merah. Itu kedengaran kuno. Dimata Andes, rasanya menjadi menakjubkan
ketika bibir itu maju. Seperti ekpresi orang kecewa. “Aku pernah melihat orang
utan melakukannya di Ragunan, “ katanya dalam hati tertawa sendiri.
Tapi mata Andes menatap
bibir Linda dengan mantap, untuk kesekian kalinya memonyongkan bibir, sebelum
ketawa puas. Begitulah kalau Linda habis melakukan smes mematikan. Bentuk bibir
Linda mematikan jantung Andes untuk beberapa
detik.
Sejujurnya, Linda dulu putih. Begitulah yang dikenal Andes dari foto kecil pemberian teman. Tapi berjam-jam di
pantai, bahkan berhari dan bertahun-tahun, mengubah kulitanya jadi gelap.
“Kurasa dia tetap suka lulur. Setidak-tidaknya tidak keling seperti pemain
lain, “ Andes berkata lirih.
Dilihatnya Linda terjengkang dengan kaki terangkat dan
tangannya menengadah minta pertolongan rekannya untuk bangkit. Itulah yang
mengagumkan dari Linda, tak pernah putus asa dan bersedia jatuh bangun. Semua
pemain sebenarnya juga begitu, tapi bagi Andes
sepertinya Linda melakukannya lebih dari yang lain. “Mengapa harus sampai
terjengkang sih?”.
Sesungguhnya, Andes juga
menjadi perhatian penonton. Dia putra mahkota Bupati Cilacap, Pak Bawono. Badan
Andes tinggi kekar dan macho. Satu
pengawal berada di sisinya, yang lebih banyak clingak-clinguk daripada nonton. Pada akhirnya dia sering menguap dan
belakangan tertidur. Itu lebih baik buat Andes ,
karena sebenarnya Sarno, si pengawal itu,
lebih banyak menganggu pikirannya.
Di bangku rumah, wajah Linda, terutama bibirnya tentu saja,
masih membayang di benak Andes . Tangan Andes
mengambil segelas jus dingin dari kulkas. Segar sekali rasanya menenggak satu
gelas besar jus dingin sampai habis.
Khayalannya kembali ke pantai yang terik. Ketika dia
meninggalkan tempat, para penonton, terutama perempuan melambai-lambai ke arah Andes . “Andes , minta
tanda tangan dong. Andes ..Andes .”
Agak norak memang, tapi Andes sendiri kadang
membuat pancingan. Ketawa ketiwi ke arah cewek ABG yang sedang kepanasan.
Seperti cacing terpanggang matahari, maaf, cewek-cewek berjingkat-jingkat
mendekati Andes . Ya Andes
berhalo-halo saja. Satu dua tangan cewek disambutnya. Tapi mata Andes sendiri
sibuk mencari Linda. Ketika sudah mendapatkan Linda lagi menyeruput air mineral
dengan lahapnya, Andes bisa mengalihkan lagi
pandangannya ke cewek-cewek. “Kurasa,
Linda melihatku, “ katanya dalam hati.
Sambil melepas kaos, Andes
memanggil Sarwo.
“Wo, kamu lihat tadi kan ?”
“Benar, Bos. Linda melihat Bapak juga”.
“Bukan. Kamu lihat dia makan apa?”
“Sepertinya habis minum, dia diberi box kue”.
“Lahap?”
“Sepertinya…”
“Sepertinya apa?”
“Sepertinya saya tidak melihat dia makan,”
Linda sebenarnya suka makan, tapi memang agak pemilih.
Kecuali soal sate, dia suka sekali. Teman-temannya memanggil Linda Sate. Dia
tak boleh lihat penjual sate lewat. Pasti dipanggil. Andes
tersenyum membayangkannya. “Kebiasaan makan sate mungkin menimbulkan bibirnya
suka maju. “ Andes minta maaf pada diri
sendiri atas analisa yang berlebihan. “Memang seksi, lebih seksi dari bibir
Angelina Jolie, “ Andes
mengoreksi.
Lama-lama Andes mengatuk
dan masuk kamar. Sarwo menilai itu saat
yang tepat untuk bermain ping pong di sebelah rumah melawan satpam. Kemarin dia
kalah. Saatnya kini untuk membalasanya. (Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar