Rabu, 10 Oktober 2012

Judul: Anak Bupati Tak Ingkar Janji





Bab I: Volley Pantai (1)

Hari panas membuat mata Andes mengernyit. Apa yang ditatapnya berbeda dengan penonton laki-laki lain. Sebuah pertandingan volley pantai oleh olahrgawan putri, apa yang menarik daripadanya? Di luar laju bola, mata mereka ramai-ramai menatap pantat atlet. Itulah salah satu alasan mengapa para pria mau berbondong ke pantai di hari yang panas.

Tapi Andes tak melihat ke bokong-bokong itu. Bibir Linda lebih menarik. Bukan soal merekah atau basah merah. Itu kedengaran  kuno. Dimata Andes, rasanya menjadi menakjubkan ketika bibir itu maju. Seperti ekpresi orang kecewa. “Aku pernah melihat orang utan melakukannya di Ragunan, “ katanya dalam hati tertawa sendiri.

Tapi mata Andes menatap bibir Linda dengan mantap, untuk kesekian kalinya memonyongkan bibir, sebelum ketawa puas. Begitulah kalau Linda habis melakukan smes mematikan. Bentuk bibir Linda mematikan jantung Andes untuk beberapa detik.

Sejujurnya, Linda dulu putih. Begitulah yang dikenal Andes dari foto kecil pemberian teman. Tapi berjam-jam di pantai, bahkan berhari dan bertahun-tahun, mengubah kulitanya jadi gelap. “Kurasa dia tetap suka lulur. Setidak-tidaknya tidak keling seperti pemain lain, “ Andes berkata lirih.

Dilihatnya Linda terjengkang dengan kaki terangkat dan tangannya menengadah minta pertolongan rekannya untuk bangkit. Itulah yang mengagumkan dari Linda, tak pernah putus asa dan bersedia jatuh bangun. Semua pemain sebenarnya juga begitu, tapi bagi Andes sepertinya Linda melakukannya lebih dari yang lain. “Mengapa harus sampai terjengkang sih?”.

Ada perasaan cemburu. “Cemburu? Emang siapa dia?” Ah, semua penonton bertepuk tangan dan memandang Linda yang mencoba bangkit dengan pasir membedaki pantat dan pahanya. Tangannya menepok celana sendiri, kemudian membungkuk membersihkan paha dan lutut dari pasir. Kali ini, bibirnya manyun. “Jangan menyerah Lin”.

Sesungguhnya, Andes juga menjadi perhatian penonton. Dia putra mahkota Bupati Cilacap, Pak Bawono. Badan Andes  tinggi kekar dan macho. Satu pengawal berada di sisinya, yang lebih banyak clingak-clinguk daripada nonton.  Pada akhirnya dia sering menguap dan belakangan tertidur. Itu lebih baik buat Andes, karena sebenarnya Sarno, si pengawal itu,  lebih banyak menganggu pikirannya.

Di bangku rumah, wajah Linda, terutama bibirnya tentu saja, masih membayang di benak Andes. Tangan Andes mengambil segelas jus dingin dari kulkas. Segar sekali rasanya menenggak satu gelas besar jus  dingin sampai habis.

Khayalannya kembali ke pantai yang terik. Ketika dia meninggalkan tempat, para penonton, terutama perempuan melambai-lambai ke arah Andes. “Andes, minta tanda tangan dong. Andes..Andes.” Agak norak memang, tapi Andes sendiri kadang membuat pancingan. Ketawa ketiwi ke arah cewek ABG yang sedang kepanasan. Seperti cacing terpanggang matahari, maaf, cewek-cewek berjingkat-jingkat mendekati Andes. Ya Andes berhalo-halo saja. Satu dua tangan cewek disambutnya. Tapi mata Andes  sendiri sibuk mencari Linda. Ketika sudah mendapatkan Linda lagi menyeruput air mineral dengan lahapnya, Andes bisa mengalihkan lagi pandangannya ke cewek-cewek.  “Kurasa, Linda melihatku, “ katanya dalam hati.

Sambil melepas kaos, Andes memanggil Sarwo.

“Wo, kamu lihat tadi kan?”

“Benar, Bos. Linda melihat Bapak juga”.

“Bukan. Kamu lihat dia makan apa?”

“Sepertinya habis minum, dia diberi box kue”.

“Lahap?”

“Sepertinya…”

“Sepertinya apa?”

“Sepertinya saya tidak melihat dia makan,”

Andes membuang muka. Sarwo merasa bersalah lalu menyingkir.

Linda sebenarnya suka makan, tapi memang agak pemilih. Kecuali soal sate, dia suka sekali. Teman-temannya memanggil Linda Sate. Dia tak boleh lihat penjual sate lewat. Pasti dipanggil. Andes tersenyum membayangkannya. “Kebiasaan makan sate mungkin menimbulkan bibirnya suka maju. “ Andes minta maaf pada diri sendiri atas analisa yang berlebihan. “Memang seksi, lebih seksi dari bibir Angelina Jolie, “  Andes mengoreksi.

Lama-lama Andes mengatuk dan masuk kamar.  Sarwo menilai itu saat yang tepat untuk bermain ping pong di sebelah rumah melawan satpam. Kemarin dia kalah. Saatnya kini untuk membalasanya. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar