Rabu, 10 Oktober 2012

Volley Pantai (2)



“Hei, anak Bupati nglihat kamu terus loh,’’ Ani berkata seolah tak ingin bicara. Kalimatnya datar dan tak sungguh-sungguh pengucapannya. Suara pelan itu, memang bermaksud menyindir. Linda merasakannya,  dia menoleh ke  arah Ani yang tengah menatap lampu taman.

“Jadi, kamu melototin Andes terus. Pantes sering salah servis.., “ Linda berkata dengan sedikit mencibir.

Dua gadis itu mendadak diam. Matanya masing-masing menatap sesuatu yang tidak jelas fokusnya.

“Kupikir dia naksir kamu, “ kata Ani, akhirnya.

“Kamu kali yang jatuh cinta.”

“Dia tak menatapku, kok.”

“Iya. Kamu yang ngliatin dia terus, “

Ani mengambil bantal dan memukul kepala Linda yang tak sempat  menghindar. Buk! Ani pergi ke kamar. Linda meneruskan tatapannya pada air mancur taman.

Linda tergoda membuat analisa. Mangapa pula anak Bupati nonton voley pantai kelas kampung? “Ini bukan Olimpiade. Alah.. iseng kali. “

Jantung Linda tiba-tiba melambat. Sudah berapa SMS kiriman dari rekan main tentang Andes.

“Bener dia gak kedip.”

“Sumpe lu, gak tanggap?”

Bla… bla… bla…

Sepertinya dunia mendadak menatapnya. “Anak Bupati jatuh cinta padaku… haaa…haaa haaa, “

Ani keluar kamar mendengar tawa Linda yang mirip orang kerasukan setan.

“Linda! Jangan lihat pohon beringin!”

Linda mendadak diam, mengoreksi mimik wajahnya. Bibirnya dimanyun-manyunkan lagi. Sedikit matanya melirik rimbunan daun beringin yang tak tersorot lampu. Tampak raksasa kribo bergoyang-goyang.

***
“Ini peluang terbaik. Semua orang mendukungmu. Pak De, Bu Lik, sepupu  kamu, semuanya merasa cocok, “ suara Bupati Bawono, begitu menggelegar di ruang makan.

“Kedatangan saya ke sini juga untuk mendukung kamu, “ kata Pak De, tangannya memilin daun kemangi sebelum dikunyah.

“Pak De seharusnya tak terlalu banyak makan sambel. Lambungnya kan pernah bocor,  “ batin Andes menatap Pak De.

“Tapi tolong jangan dibocorin dulu. Kita sedang cari pasangan yang cocok, “ Bawono kembali bicara.

“Tak perlu cantik kan Pa?” tanya Tantri, adik bungsu Andes yang lagi-lagi mengunyah pete.

“Perempuan kok makannya pete! Mendingan Linda suka sate, ” batin Andes.

“Kemarin kan dia ke pantai. Ngejar Linda, Pa, “  mata Tantri melirik Andes.

“Bocah ini kok gak besar-besar, “ Bawono menatap Tantri yang mendadak pura-pura sibuk mengambilkan tisu buat Andes.

“Linda pemain voley kan? Sudah-sudah,  “ Bawono terpancing, tapi segera balik ke topik yang dia maui.

“Pimpinan Partai Beringin sudah setuju, mau mencalonkan kamu, nDes,  “ kata Bawono berkata lebih tegas.

Andes dan Tantri bertatapan.

“Cita-citanya jadi koki terkenal kok dicalonkan  bupati. Gak salah tuh?” kata Tantri dalam hati.

Tantri melangkah keluar ruangan. “Saya gak ikut-ikut ya Pa. Kayaknya masalahnya berat.” Ketika hampir ke pintu, dia kembali. “Ini tak ada yang makan, kan?” Tantri mengambil pete bakar dan roti.

“Dasar nDeso. Makan peten campur roti tawar, “ Andes berkata dalam hati sambil menatap Tantri.

Ayahnya melanjutkan pembicaraan. Suaraya segera menguasai ruangan. Sangat berwibawa. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar