Sebuah pertarungan di alam pikiran Andes
sedang berlangsung. Dia mengambil batu kerikil, mungkin untuk yang keseratus
kali (soalnya gak ada yang ngitung), Andes
melemparkannya ke sungai. Plung. Airnya berpencar melingkar. Kodok sudah
berlarian dari tadi. Ada
satu yang tetap di situ menatapnya. Mungkin kodok berpikir: rajin amat orang
melempar batu satu satu. Capung tetap saja terbang di atas air.
Sekejap percik air bisa mengurangi kepenatan otak Andes . Jadi bupati memang keren, tapi apa harus jadi pejabat,
biar ngetop? Tapi mengapa pula ingin jadi koki? Apa nggak ada cita-cita lain,
misalnya pilot yang rada tinggian. Atau jadi raksasa yang gedean. Atau menjadi
bambu yang panjang. Ah resek benar nih otak. Ngelamunnya sudah parah, cita-cita
kok jadi bambu.
Koki? Kayaknya di pikiran Andes ,
juru masak tetap oke? Banyak nama keren
karena jadi juru masak hebat. Sebut saja, Heinz Beck, ahli santapan khusus
mediterranean di La Pergola Roma. Dari Jerman ada Klaus Erfort yang bekerja di
restoran dekat perbatasan Prancis yang jago menghidangkan masakan Jerman dan
Prancis.
Seorang lagi dari Singapura, juru masak Regis Marcon ahli memadukan beberapa elemen dengan produk natural pada masakannya. Juru masak dari Italia, Claudio Sadler menyatukan yang baru dengan yang lama di dalam masakannya dengan nama Italian nouva cucina.
Seorang lagi dari Singapura, juru masak Regis Marcon ahli memadukan beberapa elemen dengan produk natural pada masakannya. Juru masak dari Italia, Claudio Sadler menyatukan yang baru dengan yang lama di dalam masakannya dengan nama Italian nouva cucina.
Tapi kok banyak orang meremehkan pelayan restoran? ”Kan aku bukan pelayan, aku koki, “ kata Andes
dalam hati. Tunggu. Pekerjaan sejenis koki, sori ini contoh kok, katakanlah
pelayan restoran, sering diperintah orang dengan nada Bossy (emang dia yang
bayar kok). Sebentar-sebentar… ya.
Enak saja dia bilang; ambil serbet, ambilkan sendok—jatuh
tuh. Kadang nggak pakai kata maaf, langsung nyuruh. Lagian mudah amat sih tersinggung? Nah, pokoknya apa
enak jadi koki, itu pertanyaan utama. Kok muter-muter sih?
Seorang petani membawa sayuran, dari kebun. Dia melewati
jeep keren yang diparkir di tepi jalan. Petani celingukan mencari-cari siapa
pengemudinya. Kemudian dia melihat seorang pemuda tengah duduk melamun. Nyengir
saja dia, lalu kabur.
***
Telepon berdering. “Hai ini Andes kan ?” suara perempuan melengking dari balik
telepon seluler. Andes mendadak beku. “E..
Lin!”
“Ini kamu kan
gara-garanya? Kamu memang anak Bupati. Tak boleh memperlakukan wanita seenaknya
tahu!,” Linda makin memekik. Andes gelagapan.
Kok dik Jolie marah tiba-tiba. Andes
menenangkan diri. Plung. Kali ini bukan batu yang dilempar. Andes
sendiri menyemplung ke sungai yang lumayan jernih. Byuuur. Kepala panas menjadi
sedikit sejuk. Baju basah kuyup,
air merembes ke dalam kulit. Mak nyus.
Dingin.
Dia berenang sedikit ke tengah di air yang dalam, jernih dan
tenang. Dengan sedikit manuver, Andes balik
cepat ke tepian. Dicarinya telepon genggamnya dan segera telepon balik. Halloo?
“Apa?” galak benar Linda membalas, bahkan Andes
belum bicara.
“Ada
apa?” Andes bertanya kebingungan. Dia melihat
pohon beringin besar di tepi sungai. “Apakah saya kesambet?” batin Andes .
“Kamu kerasukan setan ya?” Linda masih berteriak.
Gawat, kok Linda tahu Andes
sedang memikirkan kemungkinan ada setan
yang masuk saluran telepon nirkabel? Bibir Andes terdiam seperti kesambet
beneran.
“Heh kok diam saja. Enak saja ngerjain! Mentang-mentang anak
Bupati?”
“Lind…”
Telepon mati lagi.
**
Jeep berjalan seperti kucing mabuk di jalanan. Belok kanan
dan belok kiri tak jelas tanda-tandanya. Mobil, motor, truk, bis, bergantian
mengklason. Ting-ting. “Sinting kowe…” supir angkutan umum mengumpat. Tapi supirnya
mendadak pucat.
“Anak Bupati ternyata. Aduh mudah-mudahan masih dikasih
slamet aku. Kalau sampai ketangkap. Modar aku, “ kata supir dalam hati.
Persis, selesai dia berdoa, tepat di depan ada polisi
patroli memberi aba-aba berhenti. Si supir ketakutan sambil meminggirkan
kendaraan. “Beginilah kalau orang kecil mengumpat anak Bupati, “ katanya dalam
hati.
Ketika mekrolet behenti di tepi jalan, polisi mendekat di samping
pintu. “Siapa suruh minggir. Jangan berhenti sembarangan, “ kata polisi marah. Supir
terbengong.”Kamu kok ngliat saya. Cepatan! “ katanya membentak.
Wow ya Allah doa supir terkabul. Dari pintu spion, supir melihat jeep
anak Bupati masih serong kanan serong
kiri. Polisi tadi rupanya sedang mencoba menghentikan ulah jeep mabuk itu. Tetap
dari spion, supir memperhatikan polisi berhasil yang menghentikan jeep dan
memaksanya minggir, dan Brukkk!
Wadoow. Bukan jeep itu yang menabarak pohon. Melainkan
mikrolet yang menubruk tukang ojek. Kali ini dari spion, tampak polisi
mendatangi mikrolet dengan naik motor. Ngalamat duit duit!!
****
Sebuah saluran televisi lokal menyiarkan berita dengan
headline “Putus Cinta, Andes Belgedes. “
Karena sudah jaman kebebasan informasi yang super, penyiar bisa membuat
kalimat yang tidak sesuai ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Ejaan yang
tidak sempurna saja tak menulis kata belgedes.
Linda yang lagi ngantuk, jadi bangun sontak. “Dalam keadaan
setengah ngantuk, Andes menyebut nama Linda ..
Linda …,” demikian penyiar yang melakukan siaran dengan riang gembira. Asyik
benar memberitakan kisah anak Bupati yang menurut sumber kepolisian dalam
keadaan ngantuk.
“Mungkin saja
ngantuk, “ kata seorang saksi tukang ojek.
“Saya saja ditabrak,
“ katanya melanjutkan.
“Jadi anak Bupati menabrak Anda?”
“Bukan saya ditabrak mikrolet, “ kata tukang ojek.
Ah, wartawannya kontan lari mencari sumber lain sambil
bersungut. “Orang sedang mencari berita tentang anak Bupati kok ngomong
ketabrak mirkolet. Tidak level bangget, “ kata wartawan.
Ani memperhatikan gambar di tv. Andes
tampak dikawal polisi. Tiba-tiba penyiar berkata:”Apakah ada penonton yang
bernama Linda dan punya hubungan dengan Andes , anak Bupati? Tolong telpon ke sini. ”
“Itu pasti kamu, “ kata Ani kepada Linda yang sedang
setengah melamun.
Linda dan Ani bertatapan.
“Kok kamu melototi aku?”
“Aku bingung…”
“Udah telepon saja. Kalau gak mau saya saja yang telepon ke
televisi.”
“Jangan!!!!”
Linda lari ke kamar mandi. Tak lama, dia keluar lagi.
Seperti bingung, dia masuk lagi ke kamar mandi.
“Minum obat mencret kalau mules, “ kata Ani reseh.
Linda mendadak memegang perut. Tadi sih belum mules.
Mendengar Ani ngomong, perut Linda kontan berontak. Dia masuk lagi ke WC.
Suasana WC malah membuatnya tenang. Tuing. Inspirasi muncul.
Linda mengambil HP di saku dan menelpon. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar